KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya
makalah tentang penyakit yang terkena Virus yaitu HIV/AIDS ini dapat terselesaikan.
Makalah
ini penulis susun untuk memenuhi tugas Biologi . Selain itu penulis menyusun
makalah ini untuk menambah wawasan untuk memahami tentang VIRUS HIV
AIDS, baik itu cara penularan maupun
cara penanggulangan HIV/AIDS, dan sebagainya, mengingat remaja-remaja masa kini
banyak yang melakukan seks bebas.
Mungkin
makalah yang penulis buat ini belum sempurna karna penulis juga masih dalam belajar, namun berkat
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Dalam
makalah ini penulis membahas tentang HIV AIDS. Semoga makalah yang
penulis buat ini bisa bermanfaat
bagi kalian semua yang membaca.
Demikianlah makalah yang penulis susun dan jika ada tulisan atau perkataan yang
kurang berkenan(sopan) saya mohon maaf sebesar-besarnya, semoga makalah ini
bermanfaat buat pembaca.
Makassar, 01 November 2013
Penulis
Dewi Anggraeni Larasati
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ............................................................................. 1
DAFTAR ISI ............................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ...................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah ................................................................. 9
C. Tujuan
Penulisan .................................................................. 9
D. Manfaat
Penulisan ................................................................ 9
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
A. Keluhan................................................................................... . 9
B. Tanda dan Gejala
................................................................. 10
C. Etiologi
………………………………………………….. 11
D. Diagnosa ………………………………………………… 11
E. Pengobatan ..…………………………………………….. 11
F. Prognosis ……………………………………………….. 12
G. Struktur
.................................................................................. 13
BAB
III PEMBAHASAN
A. Sejarah .................................................................................... 14
B. Pengertian .............................................................................. 16
C. Ciri-ciri ................................................................................... 16
D. Cara Penularan…….………….…………………………. 17
E. Cara Penanggulangan……………………………………. 18
BAB
IV PENUTUP
A. Kesimpulan
............................................................................ 19
B. Saran
....................................................................................... 20
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masalah HIV/AIDS merupakan masalah
kesehatan yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Saat ini
tidak ada negara yang terbebas dari masalah HIV/AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah
virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia lalu menimbulkan AIDS. AIDS
(Acquired Immuno Deficiency Sindrom) adalah
kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sistem
kekebalan tubuh manusia (Umar Zein, 2006).
Penyebaran infeksi HIV ini terus
berlangsung dan merampas kekayaan setiap Negara karena sumber daya produktifnya
menderita. HIV/AIDS pertama kali dilaporkan pada tahun 1981 di Atlanta, Amerika
Serikat. Infeksi HIV dan AIDS di Indonesia telah dilaporkan secara resmi sejak
tahun 1987 di Bali yaitu pada seorang wisatawan Belanda. Jumlah penderita
HIV/AIDS cenderung meningkat dan daerah yang terinfeksi pun cenderung meluas
Penyebaran di Indonesia terutama sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual
berisiko dan Napza (Nasution, dkk.. 2001)
Secara global diperkirakan terdapat 42
juta orang hidup dengan HIV dan AIDS, mereka terdiri dari 38,6 juta orang
dewasa, 50% diantaranya adalah perempuan (19,2 juta) dan usia di bawah 15 tahun
(3,2 juta) (Universitas Airlangga Press, 2007). Dari data statistik kasus
HIV/AIDS di Indonesia (2011) menunjukkan Sumatera Utara 2 menduduki peringkat
ke-11 dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah kasus HIV sebanyak
5.027 dan kasus AIDS sebanyak 515 (Depkes RI, 2011).
Salah satu penanggulangan bagi HIV/AIDS
adalah dengan perawatan, pengobatan dan pemberian dukungan kepada ODHA. Hal ini
dilakukan karena ODHA menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan
HIV/AIDS karena mereka adalah orang-orang yang hidupnya tersentuh dan
terpengaruh langsung oleh virus ini. Mereka adalah sumber yang paling tepat dan
paling dalam mengenai HIV/AIDS (Rahz, 2001).
Menurut Laporan Perkembangan HIV/AIDS, Triwulan I Kementrian Kesehatan
Indonesia (2012) tentang persentasi kasus HIV/AIDS tertinggi dari tahun
1987-2012 berada pada kelompok umur 20-29 tahun (46%), diikuti kelompok umur
30-39 tahun (31,4%) dan kelompok umur 40-49 tahun (10,2%). Tahun
2012, persentase kasus HIV/AIDS tertinggi berada pada kelompok umur 30-39 tahun
(35,2%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (30,9%) dan kelompok umur 40-49
tahun (15,6%). Pada tahun 2012 persentasi pada laki-laki sebesar 71%, sedangkan
pada perempuan sebesar 28%. Persentasi faktor resiko kasus AIDS tertinggi
adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (77%), penggunaan jarum
suntik tidak steril (8,5%), dari ibu ke anak (5,1%) dan laki seks laki (2,7%).
Jumlah ODHA yang sudah mendapatkan pengobatan ARV sampai dengan bulan
Maret 2012 sebanyak 25.817 orang. Sebanyak 96% orang dewasa dan 4%
anak-anak. Penemuan obat antiretroviral (ARV) untuk penderita HIV/AIDS pada
tahun 1996 mendorong suatu revolusi dalam perawatan ODHA di negara maju.
Meskipun belum mampu menyembuhkan penyakit dan menambah tantangan dalam hal
efek samping serta resistensi kronis terhadap obat, namun secara dramatis
terapi ARV dapat menghambat replikasi virus HIV dan menekan viral load,
meningkatkan kualitas hidup ODHA dan meningkatkan harapan masyarakat, sehingga
pada saat ini HIV dan AIDS telah diterima sebagai penyakit yang dapat
dikendalikan dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan
(Pedoman Nasional Terapi ARV, 2011).
Penderita yang mendapatkan terapi ARV
optimal diharapkan CD4 meningkat >100 sel/mm3 dalam 6-12 bulan pertama.
Pemeriksaan CD4 perlu diulang setiap 3-6 bulan bagi penderita yang tanpa ARV
dan tiap 2-4 bulan bagi penderita dengan terapi ARV. Bagi penderita yang
mendapat ARV dan dengan berbagai keterbatasan, maka pemeriksaan CD4 cukup tiap
6 bulan. Respon CD4 yang diharapkan dapat meningkat 50-60 sel/mm3 dalam 4 bulan
pertama dengan laju peningkatan 8-10 sel/mm3 per bulan atau 100-150 sel/mm3 per
tahun (Nasronudin, 2007).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
melalui dukungan APBN dan Global Fund (GF), menunjuk beberapa rumah sakit di
Indonesia sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien HIV/AIDS dalam mendapatkan pelayanan dan
pengobatan terapi antiretroviral. Dengan semakin dekat dan mudahnya ARV
dijangkau masyarakat, maka langkah mantap dari pemerintah tersebut merupakan
payung peneduh bagi ODHA dan keluarga (Nasronudin, 2007).
Dengan adanya perluasan akses ARV di
Indonesia sejak program pemberian ARV dengan subsidi penuh oleh pemerintah yang
diluncurkan pada tahun 2004, maka semakin banyak ODHA mendapatkan ARV, dengan
harapan mutu hidupnya menjadi lebih baik, asalkan terapi ARV dipakai
terus-menerus secara patuh (Komisi Penanggulangan AIDS, 2007).
Penelitian yang
dilakukan Dr. Indah Mahdi di Rumah Sakit Jakarta tahun 2009 yang dikutip dari
Sunani (2011) menunjukkan 30% ODHA yang dirawat di rumah sakit tersebut
meninggal pada tahun pertama. Di mana kematian terjadi pada umumnya diakibatkan
oleh infeksi oportunistik, bahkan tidak sedikit ODHA yang meninggal sebelum
mendapatkan terapi ARV. Keterlambatan datang berobat disebabkan kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan HIV/AIDS masih rendah dan masih
banyak pula yang takut untuk menjalani test HIV secarasukarela.
Hasil Penelitian Spiritia (2011)
menyimpulkan dengan melihat mutu hidup ODHA yang diukur dari 5 pilar yaitu
memiliki kepercayaan diri, pengetahuan
dasar HIV, akses layanan
dukungan, pengobatan dan perawatan menunjukkan sebagian besar responden
(92%) mempunyai pengetahuan yang baik tentang pengetahuan dasar HIV. Namun
pengetahuan tentang pengobatan dan infeksi oportunistik responden masih kurang.
Dalam hal ini informasi yang didapat responden tentang HIV diperoleh melalui
Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
Terapi ARV merupakan terapi yang
dijalankan ODHA dengan mengonsumsi obat seumur hidup mereka. Untuk menekan
penggandaan (replikasi) virus di dalam darah, tingkat obat antiretroviral (ARV)
harus selalu di atas tingkat tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa untuk
mencapai tingkat supresi virus yang optimal setidaknya 90-95% dari semua dosis
tidak boleh terlupakan (Pedoman Nasional Terapi ARV, 2007).
Cara terbaik untuk mencegah pengembangan
resistensi adalah dengan kepatuhan terhadap terapi. Kepatuhan adalah istilah
yang menggambarkan penggunaan terapi
antiretroviral (ART) yang harus sesuai dengan petunjuk pada resep yang diberikan
petugas kesehatan bagi pasien. Ini mencakup kedisiplinan dan ketepatan waktu
minum obat (Yayasan Spiritia, 2012 : 405). Pemberian terapi ARV tidak serta
merta diberikan begitu saja pada penderita yang dicurigai, tetapi perlu
mempertimbangkan berbagai faktor dari segi pengetahuan, kemampuan, kesanggupan
pengobatan jangka panjang, resistensi obat,
efek samping, jangkauan memperoleh obat, serta saat
yang tepat untuk memulai
terapi (Nasronudin, 2007).
Menurut Hussar (1995) yang dikutip dari
Denia Pratiwi (2011), kepatuhan pasien berpengaruh terhadap keberhasilan suatu
pengobatan. Hasil terapi tidak akan mencapai tingkat optimal tanpa adanya
kesadaran dari pasien itu sendiri, bahkan dapat menyebabkan kegagalan terapi,
serta dapat pula menimbulkan komplikasi yang sangat merugikan dan pada akhirnya
akan berakibat fatal.
Banyak ODHA yang sudah menjalani terapi
tetapi masih belum mengerti secara jelas mengenai semua aspek pengobatannya,
termasuk dampak dari kepatuhan, efek samping, dan kombinasi obat, atau
bagaimana menjangkau obat tersebut. Namun pengetahuan dan kesadaran tinggi yang
dibutuhkan agar terapi Antiretroviral (ARV)
tetap efektif. Jadi sebelum mulai memakai ARV sangat penting untuk mengerti
mengenai dasar ARV, bagaimana obat ini bekerja, bagaimana virus dapat menjadi
kebal atau resistan terhadap obat yang dipakai, dan apa yang dapat dilakukan
untuk mencegah timbulnya resistansi (Spiritia, 2007 : 414)
Hasil penelitian
Herlambang S. Aji (2010) di RSUP. Dr. Kariadi Semarang menunjukkan dari 70 pasien
HIV-AIDS, lebih dari separuh pasien HIV-AIDS
(71,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam
mengonsumsi ARV yang diberikan dalam sebulan terakhir dan sisanya (28,6%)
memiliki kepatuhan yang rendah. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa faktor
yang memengaruhi kepatuhan pasien dalam terapi ARV adalah pengetahuan tentang
ARV(44.3%), pengalaman efek samping (61.4%) dan ketersediaan obat ARV (90%).
Menurut hasil penelitian Simoni dkk (2007)
dikutip dari Khairina Widyanti(2008) menunjukkan bahwa dukungan sosial
berhubungan secara positif dengan kepatuhan yang dilaporkan dengan menggunakan
metode self report. Dukungan
sosial dapat ditunjukkan dalam berbagai cara misalnya keluarga dan teman ODHA
dapat membantu dengan cara menampilkan keceriaan, membicarakan perasaan dan
kekhawatiran yang mereka rasakan, serta dengan menyediakan daftar bantuan yang
telah disediakan di lingkungan sosial mereka.
Menurut Keputusan Menteri
no.782/Menkes/SK/IV/2011, Sumatera Utara terdapat sebanyak 18 rumah sakit rujukan
untuk perawatan dan pengobatan bagi ODHA dan bersama 278 rumah sakit rujukan
lainnya di Indonesia. Dari 18 rumah sakit tersebut, 5 diantaranya berada di
Kota Medan yaitu RSUP.H.Adam Malik, RSU.Dr.Pirngadi, RS.Bhayangkara, RS.Haji
Us.Syifa Medan, dan RS.Kesdam II Bukit Barisan Medan.
Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV-AIDS,
Triwulan I Kementrian Kesehatan Indonesia (2012) dari 5 rumah sakit rujukan
tersebut yang paling banyak menerima dan melayani pasien HIV/AIDS adalah RSUP.
Adam Malik sebanyak 443 kasus dan RSU. Dr. Pringadi sebanyak 350 kasus. Sejak
penunjukkan tersebut RSU. Dr. Pirngadi menyediakan pelayanan khusus bagi pasien
yaitu Klinik Voluntary Counseling and
Testing (VCT) artinya konseling dan tes secara sukarela, Care support and treatment (CST)
artinya dukungan dalam pelayanan, perawatan dan pengobatan, hingga konsultasi
terkait infeksi opurtunistik.
Data dari RSU. dr. Pirngadi Medan
diketahui jumlah kumulatif pasien yang dinyatakan positif HIV/AIDS mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Di mana dalam 2 tahun terakhir sampai dengan
bulan Juni 2012, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 323 orang. Jumlah kumulatif
ODHA dengan terapi antiretroviral sampai dengan akhir bulan September 2012
sebanyak 171 orang antara lain 113 orang lakilaki dan 58 orang perempuan, 10
orang yang berhenti minum obat (6 orang laki-laki dan 4 orang perempuan) serta
66 orang yang meninggal (52 orang laki-laki dan 14 orang perempuan).
Selain itu jumlah kumulatif ODHA yang
tidak hadir dan lolos follow up menjalani ARV dalam 3 tahun terakhir yaitu pada
tahun 2010 sebanyak 13 orang, tahun 2011 sebanyak 7 orang dan Januari sampai
September 2012 sebanyak 14 orang. Menurut penuturan petugas tersebut, dalam
menjalankan terapi antiretroviral masih ada ODHA yang telat minum obat dan lupa
mengambil obat ke rumah sakit sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Berdasarkan
survei pendahuluan yang dilakukan di RSU. dr. Pirngadi Medan pada bulan
Agustus-September 2012 terhadap 10 ODHA, di mana mereka telah mendapatkan
terapi antiretroviral, 5 orang diantaranya menyatakan alasan menjalankan terapi
antiretroviral ini karena adanya dukungan keluarga yang kuat (suami/istri,
terutama ibu mereka) sehingga mereka semangat untuk sehat kembali. orang menyatakan dengan alasan adanya
niat/motivasi yang besar dari diri sendiri yang ingin sembuh dari penyakit
tersebut. Sedangkan 1orang diantaranya menyatakan alasan bila ada keluhan saja
maka mereka kontrol pada petugas.
Berdasarkan latar belakang yang
dikemukakan di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai
“Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan ODHA Dalam Menjalani Terapi
Antiretroviral di RSU. dr. Pirngadi Medan Tahun 2012.
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka
timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah
itu Virus HIV/AIDS,dan penyebabnya ?
2. Bagaimana
tanda dan gejala Virus HIV/AIDS ?
3. Bagaimana
penanggulangan dan pengobatan
Virus HIV/AIDS ?
C. Tujuan
Penulisan
1.
TujuanUmum
Untuk lebih mengetahui Virus HIV/AIDS
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui apa itu Virus HIV/AIDS ?
b.
Untuk menambah wawasan tentang mengdiaknosa pada klien Virus HIV/AIDS ?
c.
Untuk mengetahui pengobatan dan penanggulangan Virus HIV/AIDS ?
D.
Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat tentang HIV/AIDS adalah
untuk memberikan informasi kepada pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan
generasi muda tentang HIV/AIDS, sehingga dengan demikian aku dan kita semua
dapat berusaha untuk menghindari diri dari penyakit HIV/AIDS ini. Meskipun
informasi yang aku berikan melalui makalah ini adalah sebagian kecil dan masih
banyak kekurangan, tetapi setidaknya isi dari makalah ini dapat dijadikan
petunjuk untuk mengetahui tentang penyakit HIV/AIDS.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Keluhan
Pada saat awal terinfeksi virus
HIV, mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, berkeringat dingin ketika malam hari dan kesulitan
dalam berpikir.
B.
Gejala
Gejala HIV
AIDS tidak selalu muncul ketika terinfeksi AIDS. Beberapa orang menderita
sakit mirip flu dalam waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah
terpapar virus. Mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, dan kelenjar
getah bening membesar di leher. Gejala HIV AIDSbisa jadi salah satu atau
lebih dari ini semua biasanya hilang dengan sendirinya
dalam beberapa minggu.
Perkembangan penyakit sangat bervariasi setiap orang. Kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini, virus terus berkembang biak secara aktif menginfeksi dan membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan memungkinkan kita untuk melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. Virus HIV menghancurkan sel-sel yang berfungsi sebagai “pejuang” infeksi primer, yang disebut CD4 + atau sel T4. Setelah sistem kekebalan melemah, gejala HIV AIDS akan muncul.
Gejala AIDS adalah tahap yang paling maju dari infeksi HIV. Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 CD4 + sel per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi jarang terjadi pada orang sehat. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit, dan organisme lainnya.Infeksi oportunistik umum pada orang dengan AIDS. Hampir setiap sistem organ yang terkena.
Perkembangan penyakit sangat bervariasi setiap orang. Kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini, virus terus berkembang biak secara aktif menginfeksi dan membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan memungkinkan kita untuk melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. Virus HIV menghancurkan sel-sel yang berfungsi sebagai “pejuang” infeksi primer, yang disebut CD4 + atau sel T4. Setelah sistem kekebalan melemah, gejala HIV AIDS akan muncul.
Gejala AIDS adalah tahap yang paling maju dari infeksi HIV. Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 CD4 + sel per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi jarang terjadi pada orang sehat. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit, dan organisme lainnya.Infeksi oportunistik umum pada orang dengan AIDS. Hampir setiap sistem organ yang terkena.
Beberapa gejala
AIDS secara umum mencakup yang berikut.
1.
Berat badan
menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
Berat badan
menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
2. Kelainan
kulit dan iritasi (gatal)
3. Demam
tinggi berkepanjangan
4. Sakit
kepala terus menerus
5. Diare
kronis
6. Batuk kering dan sesak napas berkepanjangan
7. Pembengkakan
kelenjar getah bening di seluruh tubuh
C.
Etiologi
Penyebab AIDS adalah Human immunodeficiency virus (HIV) yang
merupakan golongan virus leukemia, termasuk dalam Retrovirus, yaitu suatu virus
yang mempunyai RNA yang mempunyai tropisma spesifik terhadap limfosit T-helper.
Ada 2 tipe virus HIV yang sudah teridentifikasi yaitu tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2
(HIV-2), virus ini sangat relatif terhadap serologi dan geografi suatu daerah
tetapi mempunyai karakteristik epidemiologi yang sama. HIV-1 mempunyai sifat
patologis yang tinggi dibandingkan HIV-2.
D.
Diagnosa
Cara mendiagnosa HIV dan AIDS yaitu:
1. Uji antibodi
Infeksi HIV biasanya didiagnosis dengan tes darah untuk mendeteksi antibodi yang diserang oleh virus. Uji ini bermaksud untuk mendeteksi antibody yang telah diserang oleh HIV, dimana dalam hal ini yang menjadi indikator adalah jumlah CD4 dalam tubuh, yaitu kurang dari 200/cu mm.
2. Tes untuk HIV
Setelah uji antibodi tadi positif, tes kedua dilakukan untuk mengkonfirmasi hasilnya.
a. Ada berbagai jenis tes skrining tersedia di Amerika Serikat. Enzim immunoassay (EIA) yang digunakan pada darah adalah tes penyaringan yang paling umum. EIA lain tes dapat mendeteksi antibodi dalam cairan tubuh selain darah seperti cairan oral, urin, dan cairan vagina.
b. Rapid tes, tes skrining alternatif yang menghasilkan hasil yang cepat dalam kira-kira 20 menit. Ada yang disetujui Food and drug administration (FDA) tes yang menggunakan darah atau cairan oral. Tes ini memiliki tingkat akurasi yang mirip dengan tes EIA tradisional.
Rumah-tes HIV tersedia di banyak toko obat lokal. Darah diperoleh dengan tusukan jari dan dihapuskan pada filter strip. Darah dikirimkan dalam amplop pelindung ke laboratorium untuk diuji. Semua tes skrining positif harus dikonfirmasi dengan tindak lanjut tes darah yang disebut Western Blot untuk membuat diagnosis positif.
1. Uji antibodi
Infeksi HIV biasanya didiagnosis dengan tes darah untuk mendeteksi antibodi yang diserang oleh virus. Uji ini bermaksud untuk mendeteksi antibody yang telah diserang oleh HIV, dimana dalam hal ini yang menjadi indikator adalah jumlah CD4 dalam tubuh, yaitu kurang dari 200/cu mm.
2. Tes untuk HIV
Setelah uji antibodi tadi positif, tes kedua dilakukan untuk mengkonfirmasi hasilnya.
a. Ada berbagai jenis tes skrining tersedia di Amerika Serikat. Enzim immunoassay (EIA) yang digunakan pada darah adalah tes penyaringan yang paling umum. EIA lain tes dapat mendeteksi antibodi dalam cairan tubuh selain darah seperti cairan oral, urin, dan cairan vagina.
b. Rapid tes, tes skrining alternatif yang menghasilkan hasil yang cepat dalam kira-kira 20 menit. Ada yang disetujui Food and drug administration (FDA) tes yang menggunakan darah atau cairan oral. Tes ini memiliki tingkat akurasi yang mirip dengan tes EIA tradisional.
Rumah-tes HIV tersedia di banyak toko obat lokal. Darah diperoleh dengan tusukan jari dan dihapuskan pada filter strip. Darah dikirimkan dalam amplop pelindung ke laboratorium untuk diuji. Semua tes skrining positif harus dikonfirmasi dengan tindak lanjut tes darah yang disebut Western Blot untuk membuat diagnosis positif.
E.
Pengobatan
Pengobatan menggunakan
antiretroviral (ART) dan telah secara substansial mengurangi komplikasi terkait
HIV dan kematian. Namun, tidak ada obat untuk HIV / AIDS. Terapi dimulai dan
individual di bawah pengawasan dokter ahli dalam perawatan pasien terinfeksi
HIV. Sebuah kombinasi dari setidaknya tiga obat dianjurkan untuk menekan virus
dari replikasi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kelas-kelas yang
berbeda obat termasuk:
1. Reverse transcriptase inhibitor: obat ini menghambat kemampuan virus untuk membuat salinan dari dirinya sendiri.
2. Protease inhibitor (PI): Obat-obat ini mengganggu replikasi virus pada langkah selanjutnya dalam siklus hidup, mencegah sel-sel dari memproduksi virus baru.
Kedua obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat anti-HIV. Menghentikan HIV integrase inhibitor gen dari menjadi dimasukkan ke dalam DNA sel manusia. Ini merupakan kelas baru obat-obatan, belum lama ini disetujui untuk membantu mengobati orang-orang yang sudah kebal terhadap obat lain. Raltegravir (Isentress) adalah obat pertama dalam kelas ini disetujui oleh FDA, pada tahun 2007. Menghentikan obat antiretroviral virus replikasi virus dan menunda perkembangan AIDS. Namun, mereka juga memiliki efek samping yang dapat parah. Mereka termasuk penurunan sel darah putih, radang pankreas, keracunan hati, ruam, masalah pencernaan, peningkatan kadar kolesterol, diabetes, lemak tubuh yang abnormal distribusi, dan menyakitkan kerusakan saraf.
1. Reverse transcriptase inhibitor: obat ini menghambat kemampuan virus untuk membuat salinan dari dirinya sendiri.
2. Protease inhibitor (PI): Obat-obat ini mengganggu replikasi virus pada langkah selanjutnya dalam siklus hidup, mencegah sel-sel dari memproduksi virus baru.
Kedua obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat anti-HIV. Menghentikan HIV integrase inhibitor gen dari menjadi dimasukkan ke dalam DNA sel manusia. Ini merupakan kelas baru obat-obatan, belum lama ini disetujui untuk membantu mengobati orang-orang yang sudah kebal terhadap obat lain. Raltegravir (Isentress) adalah obat pertama dalam kelas ini disetujui oleh FDA, pada tahun 2007. Menghentikan obat antiretroviral virus replikasi virus dan menunda perkembangan AIDS. Namun, mereka juga memiliki efek samping yang dapat parah. Mereka termasuk penurunan sel darah putih, radang pankreas, keracunan hati, ruam, masalah pencernaan, peningkatan kadar kolesterol, diabetes, lemak tubuh yang abnormal distribusi, dan menyakitkan kerusakan saraf.
Wanita hamil yang
HIV-positif harus mencari perawatan segera karena terapi ART mengurangi risiko
penularan virus ke janin. Ada obat-obatan tertentu, Namun, yang berbahaya bagi
bayi. Oleh karena itu, melihat seorang dokter untuk mendiskusikan obat anti-HIV
sangat penting. Orang dengan infeksi HIV harus di bawah perawatan seorang
dokter yang berpengalaman dalam mengobati infeksi. Semua orang dengan HIV harus
dinasihati tentang menghindari penyebaran penyakit. Individu yang terinfeksi
juga dididik tentang proses penyakit, dan upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan kualitas hidup mereka.
F.
Prognosis
HIV yang sudah berada
dalam tubuh seseorang akan berkembang dalam waktu 1-3 bulan setelah menyerang
antibodi. Kemungikanan besar akan mengidap AIDS dengan jangka waktu 15 tahun
bahkan lebih setelah terinfeksi HIV, jika sudah menjadi penderita AIDS akan
mengalami infeksi oppurtunistik akibat sistem imun yang terus menurun dan
berujung pada kematian.
G.
|
Struktur

|
||||
|

|


|
||||
|
||||


|
![]() |
|||
![]() |
![]() |
||||||
|
||||||
![]() |
||||||
|
||||||

![]() |
|
||||
![]() |
||||
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Dari waktu ke waktu,
penyakit baru ditemukan. Dalam 20 atau lebih tahun terakhir kita telah melihat
penyakit baru seperti Virus Hanta, Virus Ebola, Penyakit Legiuner, Lyme,
Sindrom Kronis dan Toxic Shock Syndrome. Di antara penyakit-penyakit baru, AIDS
telah menjadi yang paling terkenal.
Pada tahun 1980 dan 1981, para dokter di Amerika Serikat menemukan bahwa pria gay muda dan IV-pengguna narkoba, yang secara misterius mendapatkan penyakit yang paling sering terlihat ketika sistem kekebalan tubuh rusak. Sebagai bulan berlangsung, semakin banyak orang dalam kelompok mulai meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak. Tren ini juga mulai terlihat di Eropa Barat. Sebagai angka mulai secara dramatis meningkatkan, menjadi jelas bahwa penyakit baru kepada kita. AIDS diidentifikasi sebagai penyakit baru pada tahun 1981. Human immunodeficiency virus (HIV) adalah co-ditemukan beberapa tahun kemudian oleh Luc Montagnier dan Robert Gallo.
AIDS disebabkan oleh HIV. HIV diyakini berasal di Afrika kadang antara akhir 1940-an dan awal 1950-an. Kasus yang dikenal paling awal adalah pada seorang pria dari Kongo Belgia (sekarang dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1959 (darahnya - yang disimpan sejak tahun 1959 - baru-baru ini diuji untuk HIV).
HIV diyakini telah berevolusi dari simian immunodeficiency virus (SIV) ditemukan pada monyet. Hipotesis bahwa HIV berevolusi dari SIV didasarkan pada banyak kesamaan antara kedua virus, terutama pada tingkat genetik. Kedua virus secara genetik sangat mirip dan ditularkan dengan cara yang sama. Namun HIV hanya menyebabkan AIDS pada manusia, dan SIV hanya menyebabkan AIDS pada monyet. Virus SIV, seperti HIV, ditemukan dalam darah. Dari apa yang kita bisa mengatakan, HIV memasuki manusia melalui darah monyet. Ini bisa mungkin terjadi baik oleh minum darah monyet, monyet makan mentah atau mungkin lain paparan langsung dari darah monyet ke manusia.
Setelah HIV masuk manusia, seiring waktu itu menyebar orang-ke-orang terutama melalui hubungan heteroseksual. Pada kenyataannya, bahkan hari ini, sebagian besar kasus HIV / AIDS dunia menular melalui kontak heteroseksual, bukan melalui kontak homoseksual atau dengan berbagi jarum.
Selama berabad-abad, ketika sebuah penyakit baru tersebar di satu komunitas, butuh berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menyebar ke seluruh dunia. Dengan menggunakan pesawat terbang pada abad ke-20, penyakit baru dapat menyebar ke seluruh dunia lebih cepat daripada sebelumnya. Seseorang sekarang dapat terbang dari Amerika Serikat ke Afrika dalam waktu sekitar satu hari. Sebelum pesawat diciptakan, itu akan mengambil bulan atau tahun untuk membuat perjalanan yang sama. Sebagai orang terbang di seluruh dunia dalam hitungan jam, mereka dapat membawa penyakit baru dengan mereka.
Bahkan, beberapa kasus AIDS awal di Amerika Serikat terkait dengan seorang pramugari laki-laki yang terbang di seluruh dunia (termasuk Afrika). Orang ini memiliki ribuan mitra seksual. Saat ia terbang di seluruh dunia, ia menyebarkan HIV ketika ia melakukan hubungan seks dengan sejumlah mitra nya seksual. Pada waktu itu masih butuh bertahun-tahun untuk HIV menyebar dari Afrika ke Amerika Serikat, karena ada sangat sedikit orang bepergian maka antara Afrika dan Amerika Utara.
Sama sekali tidak ada bukti bahwa HIV adalah buatan manusia. Hal ini terutama berlaku bila Anda melihat tingkat teknologi kami kembali di tahun 1940-an dan 1950-an. Pada tahun-tahun, kami tidak memiliki alat-alat teknis itu akan dibawa ke "menciptakan" virus. Bahkan saat ini, kita tidak memiliki teknologi untuk menciptakan sebuah virus baru. Sampai batas tertentu, kita sekarang dapat mengubah virus, serta melihat mereka di bawah mikroskop, dan mempelajari genetik mereka make-up.
Namun, kemampuan ini tidak eksis di tahun 1940-an dan 1950-an. Bahkan, genetik make-up dari virus ini begitu kompleks, yang bahkan saat ini, kita tidak memiliki pemahaman total bagaimana virus bekerja pada tingkat genetik. Ada pembicaraan bahwa virus itu menyebar di beberapa tahun lalu vaksin polio, namun teori ini kemudian terbukti tidak benar.
Untuk pemahaman yang lebih baik dari sejarah tahun-tahun awal epidemi AIDS, membaca buku Dan Band Played On: Politik, People, dan Epidemi AIDS, yang ditulis oleh Shilts Randy.
Sebagai manusia mengganggu pada hutan hujan dan hutan dunia, itu tidak akan mengejutkan jika kita menjadi terkena penyakit baru lainnya masih. Penyakit adalah bagian dari alam. Namun, kita harus melakukan yang terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit baru, dan untuk mendidik masyarakat tentang pencegahan penyakit yang sudah sekitar kita.
Pada tahun 1980 dan 1981, para dokter di Amerika Serikat menemukan bahwa pria gay muda dan IV-pengguna narkoba, yang secara misterius mendapatkan penyakit yang paling sering terlihat ketika sistem kekebalan tubuh rusak. Sebagai bulan berlangsung, semakin banyak orang dalam kelompok mulai meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak. Tren ini juga mulai terlihat di Eropa Barat. Sebagai angka mulai secara dramatis meningkatkan, menjadi jelas bahwa penyakit baru kepada kita. AIDS diidentifikasi sebagai penyakit baru pada tahun 1981. Human immunodeficiency virus (HIV) adalah co-ditemukan beberapa tahun kemudian oleh Luc Montagnier dan Robert Gallo.
AIDS disebabkan oleh HIV. HIV diyakini berasal di Afrika kadang antara akhir 1940-an dan awal 1950-an. Kasus yang dikenal paling awal adalah pada seorang pria dari Kongo Belgia (sekarang dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1959 (darahnya - yang disimpan sejak tahun 1959 - baru-baru ini diuji untuk HIV).
HIV diyakini telah berevolusi dari simian immunodeficiency virus (SIV) ditemukan pada monyet. Hipotesis bahwa HIV berevolusi dari SIV didasarkan pada banyak kesamaan antara kedua virus, terutama pada tingkat genetik. Kedua virus secara genetik sangat mirip dan ditularkan dengan cara yang sama. Namun HIV hanya menyebabkan AIDS pada manusia, dan SIV hanya menyebabkan AIDS pada monyet. Virus SIV, seperti HIV, ditemukan dalam darah. Dari apa yang kita bisa mengatakan, HIV memasuki manusia melalui darah monyet. Ini bisa mungkin terjadi baik oleh minum darah monyet, monyet makan mentah atau mungkin lain paparan langsung dari darah monyet ke manusia.
Setelah HIV masuk manusia, seiring waktu itu menyebar orang-ke-orang terutama melalui hubungan heteroseksual. Pada kenyataannya, bahkan hari ini, sebagian besar kasus HIV / AIDS dunia menular melalui kontak heteroseksual, bukan melalui kontak homoseksual atau dengan berbagi jarum.
Selama berabad-abad, ketika sebuah penyakit baru tersebar di satu komunitas, butuh berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menyebar ke seluruh dunia. Dengan menggunakan pesawat terbang pada abad ke-20, penyakit baru dapat menyebar ke seluruh dunia lebih cepat daripada sebelumnya. Seseorang sekarang dapat terbang dari Amerika Serikat ke Afrika dalam waktu sekitar satu hari. Sebelum pesawat diciptakan, itu akan mengambil bulan atau tahun untuk membuat perjalanan yang sama. Sebagai orang terbang di seluruh dunia dalam hitungan jam, mereka dapat membawa penyakit baru dengan mereka.
Bahkan, beberapa kasus AIDS awal di Amerika Serikat terkait dengan seorang pramugari laki-laki yang terbang di seluruh dunia (termasuk Afrika). Orang ini memiliki ribuan mitra seksual. Saat ia terbang di seluruh dunia, ia menyebarkan HIV ketika ia melakukan hubungan seks dengan sejumlah mitra nya seksual. Pada waktu itu masih butuh bertahun-tahun untuk HIV menyebar dari Afrika ke Amerika Serikat, karena ada sangat sedikit orang bepergian maka antara Afrika dan Amerika Utara.
Sama sekali tidak ada bukti bahwa HIV adalah buatan manusia. Hal ini terutama berlaku bila Anda melihat tingkat teknologi kami kembali di tahun 1940-an dan 1950-an. Pada tahun-tahun, kami tidak memiliki alat-alat teknis itu akan dibawa ke "menciptakan" virus. Bahkan saat ini, kita tidak memiliki teknologi untuk menciptakan sebuah virus baru. Sampai batas tertentu, kita sekarang dapat mengubah virus, serta melihat mereka di bawah mikroskop, dan mempelajari genetik mereka make-up.
Namun, kemampuan ini tidak eksis di tahun 1940-an dan 1950-an. Bahkan, genetik make-up dari virus ini begitu kompleks, yang bahkan saat ini, kita tidak memiliki pemahaman total bagaimana virus bekerja pada tingkat genetik. Ada pembicaraan bahwa virus itu menyebar di beberapa tahun lalu vaksin polio, namun teori ini kemudian terbukti tidak benar.
Untuk pemahaman yang lebih baik dari sejarah tahun-tahun awal epidemi AIDS, membaca buku Dan Band Played On: Politik, People, dan Epidemi AIDS, yang ditulis oleh Shilts Randy.
Sebagai manusia mengganggu pada hutan hujan dan hutan dunia, itu tidak akan mengejutkan jika kita menjadi terkena penyakit baru lainnya masih. Penyakit adalah bagian dari alam. Namun, kita harus melakukan yang terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit baru, dan untuk mendidik masyarakat tentang pencegahan penyakit yang sudah sekitar kita.
B.
Pengertian
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sel darah putih manusia yang
merupakan bagian terpenting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini
hidup di dalam darah penderita HIV, virus ini juga tidak memandang usia, warna
kulit, orientasi seksual, agama maupum faktor pembeda lainnya. Sekali saja HIV
hidup dalam tubuh kita, itu artinya kita sudah terinfeksi virus ini, dan sejauh
ini belum ada obat untuk memusnahkan virus
HIV ini, namun masih banyak upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk
menghindari virus HIV.
AIDS (Aquired Immuno Deficiency
Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit syndrome akibat menurunnya sistem
kekebalan tubuh manusia. Atau suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan
oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang merusak sel-sel
kekebalan tubuh manusia.
C.
Ciri-ciri
1. Demam mendadak
Orang yang pertama kali terkena virus HIV, Anda mungkin mengalami demam
ringan. Demam akan disertai dengan batuk dan pilek. Demam ini reda dalam
beberapa hari dan Anda mungkin tidak memiliki gejala lainnya selama
bertahun-tahun.
2. Kelelahan
Ini adalah tanda pertama HIV yang cenderung diabaikan. Kelelahan dapat terjadi karena beberapa alasan. Tetapi jika Anda tidur dengan baik, memiliki cukup istirahat dan masih merasa lelah sepanjang waktu, itu bisa menjadi alasan untuk kalian perhatikan.
2. Kelelahan
Ini adalah tanda pertama HIV yang cenderung diabaikan. Kelelahan dapat terjadi karena beberapa alasan. Tetapi jika Anda tidur dengan baik, memiliki cukup istirahat dan masih merasa lelah sepanjang waktu, itu bisa menjadi alasan untuk kalian perhatikan.
3. Deman terus-menerus
Demam yang Anda dapatkan ketika HIV menyebar sangat berbeda dari yang Anda miliki sebelumnya. Seperti demam ringan yang berlangsung selama berminggu-minggu.
4. Kelenjar getah bening bengkak
Infeksi HIV biasanya membuat cairan limfatik tinggi. Hal ini membuat pembengkakan kelenjar getah bening dan sakit otot. Sakit kepala Ketika seseorang positif HIV, Anda akan mendapatkan sakit kepala konstan yang membuat Anda merasa demam dan lemah.
5. Sakit tenggorokan
Dingin yang berhubungan dengan infeksi seperti sakit tenggorokan dan batuk mulai menyerang Anda sangat sering karena mekanisme pertahanan tubuh Anda sedang lemah.
6. Kulit jadi lebih sensitif
Kulit Anda mungkin menjadi terlalu sensitif terhadap infeksi, goresan dan bahkan untuk menyentuh. Sedikit goresan dapat membuat kulit merah bahkan berdarah.
7. Mual dan Diare
Anda kehilangan nafsu makan karena mual dan makanan tidak bisa dicerna dengan baik. Hal ini karena bakteri baik dalam perut Anda secara perlahan menghilang .
Anda kehilangan nafsu makan karena mual dan makanan tidak bisa dicerna dengan baik. Hal ini karena bakteri baik dalam perut Anda secara perlahan menghilang .
8. Perubahan kuku
Kuku tumbuh lebih tebal, melengkung atau berubah warna. Hal ini disebabkan oleh ragi dan infeksi jamur pada kuku Anda.
Kuku tumbuh lebih tebal, melengkung atau berubah warna. Hal ini disebabkan oleh ragi dan infeksi jamur pada kuku Anda.
9. Berkeringat saat malam
Orang positif HIV akan berkeringat di malam hari. Mereka akan mengeluarkan keringat saat tengah malam dan tidak bisa tidur.
10. Infeksi genital atau herpes
Anda sudah tahu bahwa virus HIV hadir dalam cairan kelamin seperti lendir. Itulah mengapa hal itu dapat menyebabkan infeksi genital seperti herpes dan luka pada tahap selanjutnya.
12. Kaki dan tangan kesemutan
Pernahkah Anda merasakan kesemutan pada yang luar biasa pada tubuh Anda? Seperti ditusuk dengan pin dan jarum ujung jari tangan atau jari kaki, hal ini terjadi saat virus mulai mempengaruhi sistem saraf Anda.
Orang positif HIV akan berkeringat di malam hari. Mereka akan mengeluarkan keringat saat tengah malam dan tidak bisa tidur.
10. Infeksi genital atau herpes
Anda sudah tahu bahwa virus HIV hadir dalam cairan kelamin seperti lendir. Itulah mengapa hal itu dapat menyebabkan infeksi genital seperti herpes dan luka pada tahap selanjutnya.
12. Kaki dan tangan kesemutan
Pernahkah Anda merasakan kesemutan pada yang luar biasa pada tubuh Anda? Seperti ditusuk dengan pin dan jarum ujung jari tangan atau jari kaki, hal ini terjadi saat virus mulai mempengaruhi sistem saraf Anda.
D.
Cara Penularan
Virus HIV terdapat dalam darah, sehingga
dapat disimpulkan bahwa semua specimen yang berupa cairan tubuh yang berasal
dari tubuh penderita HIV dapat dipastikan infeksius dan sangat potensial untuk
menularkan virus ini pada orang lain (namun ada juga cairan lain yang tidak
tercemar virus HIV ini, salah satunya adalah air liur), termasuk ketika seorang
penderita HIV positif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, dan bukan
tidak mungkin bila nanti pasangan seksualnya tersebut akan terinfeksi virus HIV
juga, apalagi jika tidak menggunakan pengaman (kondom).
Baik penderita pria maupun wanita sangat
riskan untuk menularkan virus HIV ini pada pasangan seksualnya ketika
berhubungan badan, yakni melalui cairan sperma bagi penderita pria, dan melalui
darah menstruasi atau cairan lain pada vagina bagi penderita wanita. Selain melalui
hubungan seksual, HIV juga dapat ditularkan melalui jarum suntik yang digunakan
bersamaan oleh seseorang yang terinfeksi HIV dengan orang yang tidak terinfeksi
HIV, dan kemungkinan besar orang yang tidak terinfeksi HIV ini akan terinfeksi
HIV. Virus HIV juga dapat ditularkan oleh seorang ibu yang positif
terinfeksi HIV kepada bayinya pada waktu hamil atau menyusui, karena air susu
yang diberikan sang ibu positif terinfeksi HIV.
E.
Cara Penanggulangan
1. Abstain atau penolakan
Ini adalah salah satu tips terbaik untuk mencegah AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. Tidak bercinta atau menolak untuk bercinta bisa mejadi trik terbaik menghindari kemungkinan terkena infeksi penyakit ini. Ini adalah cara terbaik untuk menghindari kontak dengan cairan vagina, air mani dan cairan pra-mani.
2. Menggunakan perlindungan
Untuk mencegah HIV AIDS, Anda harus selalu menggunakan pelindung atau kondom.
3. Setia dan Hindari Seks Bebas
Memiliki kontak fisik dengan hanya satu pasangan yang juga monogami pada waktu yang sama. Terlibat dalam seks dengan banyak pasangan, terutama tanpa menggunakan kondom dapat benar-benar berbahaya.
4. Berbagi jarum suntik
Suntikan jarum yang dipakai bergantian dan tidak steril dapat menyebabkan risiko. AIDS menyebar karena transfusi darah, jadi sangat berhati-hati sebelum memakai jarum.
5. Hindari ASI
Menurut US Department of Health and Human Services, ASI dapat mengandung virus HIV, sehingga hindari kontak dari ASI dengan selaput lendir di mulut.
Ini adalah salah satu tips terbaik untuk mencegah AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. Tidak bercinta atau menolak untuk bercinta bisa mejadi trik terbaik menghindari kemungkinan terkena infeksi penyakit ini. Ini adalah cara terbaik untuk menghindari kontak dengan cairan vagina, air mani dan cairan pra-mani.
2. Menggunakan perlindungan
Untuk mencegah HIV AIDS, Anda harus selalu menggunakan pelindung atau kondom.
3. Setia dan Hindari Seks Bebas
Memiliki kontak fisik dengan hanya satu pasangan yang juga monogami pada waktu yang sama. Terlibat dalam seks dengan banyak pasangan, terutama tanpa menggunakan kondom dapat benar-benar berbahaya.
4. Berbagi jarum suntik
Suntikan jarum yang dipakai bergantian dan tidak steril dapat menyebabkan risiko. AIDS menyebar karena transfusi darah, jadi sangat berhati-hati sebelum memakai jarum.
5. Hindari ASI
Menurut US Department of Health and Human Services, ASI dapat mengandung virus HIV, sehingga hindari kontak dari ASI dengan selaput lendir di mulut.
6. Pelumas
Banyak bahan kimia dan minyak yang dapat merusak kondom. Jadi, selalu gunakan pelumas berbasis air.
Semoga artikel mengenai penyakit HIV yang mencakup gejala infeksi virus HIV, cara penularan dan cara pencegahan ini bisa bermanfaat buat anda sebagai antisipasi dan pengetahuan.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
AIDS disebabkan oleh HIV.
HIV diyakini berasal di Afrika kadang antara akhir 1940-an dan awal 1950-an.
Kasus yang dikenal paling awal adalah pada seorang pria dari Kongo Belgia
(sekarang dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1959 (darahnya
- yang disimpan sejak tahun 1959 - baru-baru ini diuji untuk HIV).
HIV
(Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sel
darah putih manusia yang merupakan bagian terpenting dalam sistem kekebalan
tubuh manusia. Virus ini hidup di dalam darah penderita HIV, virus ini juga
tidak memandang usia, warna kulit, orientasi seksual, agama maupum faktor
pembeda lainnya. Sekali saja HIV hidup dalam tubuh kita, itu artinya kita sudah
terinfeksi virus ini, dan sejauh ini belum ada obat untuk memusnahkan virus HIV
ini, namun masih banyak upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari
virus HIV.
Virus HIV terdapat dalam darah, sehingga
dapat disimpulkan bahwa semua specimen yang berupa cairan tubuh yang berasal
dari tubuh penderita HIV dapat dipastikan infeksius dan sangat potensial untuk
menularkan virus ini pada orang lain (namun ada juga cairan lain yang tidak
tercemar virus HIV ini, salah satunya adalah air liur), termasuk ketika seorang
penderita HIV positif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, dan bukan
tidak mungkin bila nanti pasangan seksualnya tersebut akan terinfeksi virus HIV
juga, apalagi jika tidak menggunakan pengaman (kondom).
B.
Saran
Kita Sebagai Penerus bangsa
hendaknya
kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha
menghindari diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit HIV/AIDS. Jangan
melakukan hubungan seksual diluar nikah, jangan bergonta ganti pasangan
seksual. Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, pastikan jarum suntik
yang digunakan itu baru dan steril. Apabila melakukan transfusi darah,
periksakan terlebih dahulu apakah transfusi darah itu bebas dari virus HIV atau
tidak. Bagi ibu hamil yang terinveksi virus HIV, sebaiknya melakukan terapi
atau vaksinasi pada janinnya, agar nanti bayi yang dilahirkannya kemungkinan
kecil terinveksi HIV, dan jangan member ASI pada bayi, karena dari ASI itu
virus HIV akan mudah masuk ke dalam tubuh bayi.
Bagi para
generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat
suntik, alat-alat tatto, anting tindik, dan sebagainya, karena alat-alat
seperti itu tidak ada gunanya, dan hindari diri dari pergaulan bebas yang
bersifat negatif.
Orang
yang mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV, hendaknya menggunakan kondom
apabila melakukan hubungan seksual, agar virus HIV tidak menular pada pasangan
seksualnya. Dan ingat HIV/AIDS ada dimana saja dan kapan saja bisa menyerang
kita.
DAFTAR
PUSTAKA
Raven,P.H. and George B.
Johnson.1996.Biology.Fourth Edition.New York: WBC/Mc Graw-Hill Companies,Inv
www.dk.com
www.erlangga.com
www.blogger.com
www.google.com
Semoga bermanfaat bagi kalian semua yang membacanya. mohon maaf bila ada kata yang kurang sopan atau salah kata:) . SEMOGA BERMANFAAT.,






Saya di sini untuk memberikan kesaksian saya bagaimana saya sembuh dari HIV, saya menghubungi HIV saya melalui pisau. Seorang teman saya menggunakan pisau untuk mengupas kuku jarinya dan menjatuhkannya di tempat dia menggunakannya, jadi setelah dia pergi saya tahu apa yang datang kepada saya, saya melihat kuku saya, kuku saya sangat panjang dan saya mengambil pisau yang dia hanya digunakan pada kukunya sendiri untuk memotong kuku jariku, karena aku mempertahankan namaku, aku melukai diriku sendiri secara keliru. Saya bahkan peduli tentang itu, jadi ketika saya sampai di rumah sakit minggu berikutnya ketika saya sakit dokter memberi tahu saya bahwa saya HIV positif, saya bertanya-tanya dari mana saya mendapatkannya jadi saya ingat bagaimana saya menggunakan pisau teman saya untuk memotong dari tangan saya jadi saya merasa sangat sedih di hati saya sampai-sampai saya bahkan tidak tahu harus berbuat apa, jadi suatu hari saya sedang melewati internet saya bertemu dengan kesaksian seorang wanita yang semuanya berbicara tentang bagaimana dia disembuhkan oleh seorang dokter bernama DR Imoloa jadi saya segera mengirim email ke dokter tersebut dan dia juga menjawab saya dan mengatakan kepada saya persyaratan yang akan saya berikan dan saya lakukan sesuai perintahnya, dia menyiapkan jamu untuk saya yang saya minum. Dia mengirimi saya pesan pada minggu berikutnya bahwa saya harus menjalani tes yang saya lakukan yang mengejutkan saya sendiri, saya menemukan bahwa saya HIV negatif. Ia juga telah menyembuhkan semua jenis penyakit yang tidak dapat disembuhkan seperti: penyakit Huntington, jerawat punggung, gagal ginjal kronis, penyakit Addison, Penyakit Kronis, Penyakit Crohn, Cystic Fibrosis, Fibromyalgia, Penyakit Radang Usus, Penyakit Jamur Kuku, Kelumpuhan, Penyakit Celia, Limfoma , Depresi Mayor, Melanoma Maligna, Mania, Melorheostosis, Penyakit Meniere, Mucopolysaccharidosis, Multiple Sclerosis, Distrofi Otot, Artritis Reumatoid, Penyakit Alzheimer dan banyak lagi. Berkat dia sekali lagi dokter hebat yang menyembuhkan saya dr. Imoloa jadi Anda juga bisa email dia melalui drimolaherbalmademedicine@gmail.com atau whatsapp dia di + 2347081986098. / situs web- drimolaherbalmademedicine.wordpress.com. Tuhan memberkati Anda, Tuan.
BalasHapusLa gran medicina herbaria del Dr. imoloa es la cura perfecta para el virus del VIH, me diagnosticaron VIH durante 8 años y todos los días siempre busco investigaciones para encontrar la manera perfecta de deshacerme de esta terrible enfermedad porque siempre sé qué Necesitamos porque nuestra salud está en la tierra. Entonces, en mi búsqueda en Internet vi varios testimonios sobre cómo el Dr. imoloa puede curar el VIH con poderosas medicinas a base de hierbas. Decidí contactar a este hombre, lo contacté por medicamentos a base de hierbas que recibí a través del servicio de mensajería DHL. Y él me guió cómo. Le pedí una solución para tomar hierbas medicinales durante dos semanas. Y luego me ordenó que fuera a comprobar lo que estaba haciendo. Mírame (VIH NEGATIVO). Gracias a Dios por el Dr. Imoloa por usar un poderoso remedio a base de hierbas para curarme. también tiene cura para enfermedades como la enfermedad de parkison, cáncer de vagina, epilepsia, trastornos de ansiedad, enfermedades autoinmunes, dolor de espalda, esguinces, trastorno bipolar, tumores cerebrales malignos, bruxismo, bulimia, enfermedad del disco cervical, enfermedades cardiovasculares, enfermedades cardiovasculares, esguinces, trastorno bipolar, tumores cerebrales, maligno, bruxismo, bulimia, enfermedad del disco cervical, enfermedad cardiovascular, enfermedad cardiovascular, esguinces, trastorno bipolar, tumores cerebrales, maligno, bruxismo, bulimia, enfermedad del disco cervical, enfermedad cardiovascular, enfermedades respiratorias crónicas, mental y trastornos del comportamiento, fibrosis quística, hipertensión, diabetes, asma, artritis autoinmune. Enfermedad renal crónica, artritis, dolor de espalda, impotencia, espectro de alcohol feta, trastornos distímicos, eczema, cáncer de piel, tuberculosis, síndrome de fatiga crónica, estreñimiento, enfermedad inflamatoria intestinal, cáncer de huesos, cáncer de pulmón, llagas en la boca, cáncer oral, dolor corporal, fiebre, hepatitis ABC, sífilis, diarrea, enfermedad de Huntington, acné en la espalda, insuficiencia renal crónica, enfermedad de Addison, enfermedad crónica, enfermedad de Crohn, fibrosis quística, fibromialgia, enfermedad inflamatoria intestinal, enfermedad de las uñas por hongos, parálisis, enfermedad de Celia, linfoma, depresión mayor , melanoma maligno, manía, melorreostosis, enfermedad de Meniere, mucopolisacaridosis, esclerosis múltiple, distrofia muscular, artritis reumatoide, enfermedad de Alzheimer correo electrónico: drimolaherbalmademedicine@gmail.com.
BalasHapus