Sabtu, 09 November 2013

Penyakit AIDS yang terkena virus HIV ( Human Immunodeficiency Virus )

KATA PENGANTAR

                Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya makalah tentang penyakit yang terkena Virus yaitu HIV/AIDS ini  dapat terselesaikan.
         Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Biologi . Selain itu penulis menyusun makalah ini untuk menambah wawasan untuk memahami tentang VIRUS  HIV AIDS,  baik itu cara penularan maupun cara penanggulangan HIV/AIDS, dan sebagainya, mengingat remaja-remaja masa kini banyak yang melakukan seks bebas.
        Mungkin makalah  yang penulis  buat ini belum sempurna karna penulis  juga masih dalam belajar, namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam makalah ini penulis membahas tentang HIV AIDS.  Semoga makalah yang penulis  buat  ini bisa bermanfaat bagi kalian semua yang membaca.
        Demikianlah makalah yang penulis susun dan jika ada tulisan atau perkataan yang kurang berkenan(sopan) saya mohon maaf sebesar-besarnya, semoga makalah ini bermanfaat buat pembaca.


                                                                                     Makassar, 01 November 2013
                                                                                                      Penulis
                                                                                        Dewi Anggraeni Larasati



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................  1
DAFTAR ISI .............................................................................................  2

BAB  I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ......................................................................  4
B.     Rumusan Masalah .................................................................  9
C.     Tujuan Penulisan ..................................................................  9
D.    Manfaat Penulisan ................................................................  9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Keluhan................................................................................... . 9
B.     Tanda dan Gejala  .................................................................  10
C.     Etiologi ………………………………………………….. 11
D.    Diagnosa ………………………………………………… 11
E.     Pengobatan ..…………………………………………….. 11
F.      Prognosis ……………………………………………….. 12
G.    Struktur .................................................................................. 13

BAB III PEMBAHASAN
A.    Sejarah ....................................................................................  14
B.     Pengertian ..............................................................................  16
C.     Ciri-ciri ...................................................................................  16
D.    Cara Penularan…….………….…………………………. 17
E.     Cara Penanggulangan……………………………………. 18
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan ............................................................................  19
B.     Saran .......................................................................................  20
DAFTAR PUSTAKA 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari masalah HIV/AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia lalu menimbulkan AIDS. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Sindrom) adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia (Umar Zein, 2006).

Penyebaran infeksi HIV ini terus berlangsung dan merampas kekayaan setiap Negara karena sumber daya produktifnya menderita. HIV/AIDS pertama kali dilaporkan pada tahun 1981 di Atlanta, Amerika Serikat. Infeksi HIV dan AIDS di Indonesia telah dilaporkan secara resmi sejak tahun 1987 di Bali yaitu pada seorang wisatawan Belanda. Jumlah penderita HIV/AIDS cenderung meningkat dan daerah yang terinfeksi pun cenderung meluas Penyebaran di Indonesia terutama sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko dan Napza (Nasution, dkk.. 2001)

Secara global diperkirakan terdapat 42 juta orang hidup dengan HIV dan AIDS, mereka terdiri dari 38,6 juta orang dewasa, 50% diantaranya adalah perempuan (19,2 juta) dan usia di bawah 15 tahun (3,2 juta) (Universitas Airlangga Press, 2007). Dari data statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia (2011) menunjukkan Sumatera Utara 2 menduduki peringkat ke-11 dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah kasus HIV sebanyak 5.027 dan kasus AIDS sebanyak 515 (Depkes RI, 2011).

Salah satu penanggulangan bagi HIV/AIDS adalah dengan perawatan, pengobatan dan pemberian dukungan kepada ODHA. Hal ini dilakukan karena ODHA menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS karena mereka adalah orang-orang yang hidupnya tersentuh dan terpengaruh langsung oleh virus ini. Mereka adalah sumber yang paling tepat dan paling dalam mengenai HIV/AIDS (Rahz, 2001).

Menurut Laporan Perkembangan HIV/AIDS, Triwulan I Kementrian Kesehatan Indonesia (2012) tentang persentasi kasus HIV/AIDS tertinggi dari tahun 1987-2012 berada pada kelompok umur 20-29 tahun (46%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (31,4%) dan kelompok umur 40-49 tahun (10,2%). Tahun 2012, persentase kasus HIV/AIDS tertinggi berada pada kelompok umur 30-39 tahun (35,2%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (30,9%) dan kelompok umur 40-49 tahun (15,6%). Pada tahun 2012 persentasi pada laki-laki sebesar 71%, sedangkan pada perempuan sebesar 28%. Persentasi faktor resiko kasus AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (77%), penggunaan jarum suntik tidak steril (8,5%), dari ibu ke anak (5,1%) dan laki seks laki (2,7%).

Jumlah ODHA yang sudah mendapatkan pengobatan ARV sampai dengan bulan Maret 2012 sebanyak 25.817 orang. Sebanyak 96% orang dewasa dan 4% anak-anak. Penemuan obat antiretroviral (ARV) untuk penderita HIV/AIDS pada tahun 1996 mendorong suatu revolusi dalam perawatan ODHA di negara maju. Meskipun belum mampu menyembuhkan penyakit dan menambah tantangan dalam hal efek samping serta resistensi kronis terhadap obat, namun secara dramatis terapi ARV dapat menghambat replikasi virus HIV dan menekan viral load, meningkatkan kualitas hidup ODHA dan meningkatkan harapan masyarakat, sehingga pada saat ini HIV dan AIDS telah diterima sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan (Pedoman Nasional Terapi ARV, 2011).

Penderita yang mendapatkan terapi ARV optimal diharapkan CD4 meningkat >100 sel/mm3 dalam 6-12 bulan pertama. Pemeriksaan CD4 perlu diulang setiap 3-6 bulan bagi penderita yang tanpa ARV dan tiap 2-4 bulan bagi penderita dengan terapi ARV. Bagi penderita yang mendapat ARV dan dengan berbagai keterbatasan, maka pemeriksaan CD4 cukup tiap 6 bulan. Respon CD4 yang diharapkan dapat meningkat 50-60 sel/mm3 dalam 4 bulan pertama dengan laju peningkatan 8-10 sel/mm3 per bulan atau 100-150 sel/mm3 per tahun (Nasronudin, 2007).

Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui dukungan APBN dan Global Fund (GF), menunjuk beberapa rumah sakit di Indonesia sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien  HIV/AIDS dalam mendapatkan pelayanan dan pengobatan terapi antiretroviral. Dengan semakin dekat dan mudahnya ARV dijangkau masyarakat, maka langkah mantap dari pemerintah tersebut merupakan payung peneduh bagi ODHA dan keluarga (Nasronudin, 2007).

Dengan adanya perluasan akses ARV di Indonesia sejak program pemberian ARV dengan subsidi penuh oleh pemerintah yang diluncurkan pada tahun 2004, maka semakin banyak ODHA mendapatkan ARV, dengan harapan mutu hidupnya menjadi lebih baik, asalkan terapi ARV dipakai terus-menerus secara patuh (Komisi Penanggulangan AIDS, 2007).

Penelitian yang dilakukan Dr. Indah Mahdi di Rumah Sakit Jakarta tahun 2009 yang dikutip dari Sunani (2011) menunjukkan 30% ODHA yang dirawat di rumah sakit tersebut meninggal pada tahun pertama. Di mana kematian terjadi pada umumnya diakibatkan oleh infeksi oportunistik, bahkan tidak sedikit ODHA yang meninggal sebelum mendapatkan terapi ARV. Keterlambatan datang berobat disebabkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan HIV/AIDS masih rendah dan masih banyak pula yang takut untuk menjalani test HIV secarasukarela.

Hasil Penelitian Spiritia (2011) menyimpulkan dengan melihat mutu hidup ODHA yang diukur dari 5 pilar yaitu memiliki kepercayaan diri, pengetahuan dasar HIV, akses layanan dukungan, pengobatan dan perawatan menunjukkan sebagian besar responden (92%) mempunyai pengetahuan yang baik tentang pengetahuan dasar HIV. Namun pengetahuan tentang pengobatan dan infeksi oportunistik responden masih kurang. Dalam hal ini informasi yang didapat responden tentang HIV diperoleh melalui Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Terapi ARV merupakan terapi yang dijalankan ODHA dengan mengonsumsi obat seumur hidup mereka. Untuk menekan penggandaan (replikasi) virus di dalam darah, tingkat obat antiretroviral (ARV) harus selalu di atas tingkat tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai tingkat supresi virus yang optimal setidaknya 90-95% dari semua dosis tidak boleh terlupakan (Pedoman Nasional Terapi ARV, 2007).

Cara terbaik untuk mencegah pengembangan resistensi adalah dengan kepatuhan terhadap terapi. Kepatuhan adalah istilah yang menggambarkan penggunaan terapi antiretroviral (ART) yang harus sesuai dengan petunjuk pada resep yang diberikan petugas kesehatan bagi pasien. Ini mencakup kedisiplinan dan ketepatan waktu minum obat (Yayasan Spiritia, 2012 : 405). Pemberian terapi ARV tidak serta merta diberikan begitu saja pada penderita yang dicurigai, tetapi perlu mempertimbangkan berbagai faktor dari segi pengetahuan, kemampuan, kesanggupan pengobatan jangka panjang, resistensi obat,
efek samping, jangkauan memperoleh obat, serta saat yang tepat untuk memulai
terapi (Nasronudin, 2007).

Menurut Hussar (1995) yang dikutip dari Denia Pratiwi (2011), kepatuhan pasien berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pengobatan. Hasil terapi tidak akan mencapai tingkat optimal tanpa adanya kesadaran dari pasien itu sendiri, bahkan dapat menyebabkan kegagalan terapi, serta dapat pula menimbulkan komplikasi yang sangat merugikan dan pada akhirnya akan berakibat fatal.

Banyak ODHA yang sudah menjalani terapi tetapi masih belum mengerti secara jelas mengenai semua aspek pengobatannya, termasuk dampak dari kepatuhan, efek samping, dan kombinasi obat, atau bagaimana menjangkau obat tersebut. Namun pengetahuan dan kesadaran tinggi yang dibutuhkan agar terapi Antiretroviral (ARV) tetap efektif. Jadi sebelum mulai memakai ARV sangat penting untuk mengerti mengenai dasar ARV, bagaimana obat ini bekerja, bagaimana virus dapat menjadi kebal atau resistan terhadap obat yang dipakai, dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya resistansi (Spiritia, 2007 : 414)

Hasil penelitian Herlambang S. Aji (2010) di RSUP. Dr. Kariadi Semarang menunjukkan dari 70 pasien HIV-AIDS, lebih dari separuh pasien HIV-AIDS
(71,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam mengonsumsi ARV yang diberikan dalam sebulan terakhir dan sisanya (28,6%) memiliki kepatuhan yang rendah. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa faktor yang memengaruhi kepatuhan pasien dalam terapi ARV adalah pengetahuan tentang ARV(44.3%), pengalaman efek samping (61.4%) dan ketersediaan obat ARV (90%).

Menurut hasil penelitian Simoni dkk (2007) dikutip dari Khairina Widyanti(2008) menunjukkan bahwa dukungan sosial berhubungan secara positif dengan kepatuhan yang dilaporkan dengan menggunakan metode self report. Dukungan sosial dapat ditunjukkan dalam berbagai cara misalnya keluarga dan teman ODHA dapat membantu dengan cara menampilkan keceriaan, membicarakan perasaan dan kekhawatiran yang mereka rasakan, serta dengan menyediakan daftar bantuan yang telah disediakan di lingkungan sosial mereka.

Menurut Keputusan Menteri no.782/Menkes/SK/IV/2011, Sumatera Utara terdapat sebanyak 18 rumah sakit rujukan untuk perawatan dan pengobatan bagi ODHA dan bersama 278 rumah sakit rujukan lainnya di Indonesia. Dari 18 rumah sakit tersebut, 5 diantaranya berada di Kota Medan yaitu RSUP.H.Adam Malik, RSU.Dr.Pirngadi, RS.Bhayangkara, RS.Haji Us.Syifa Medan, dan RS.Kesdam II Bukit Barisan Medan.

Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV-AIDS, Triwulan I Kementrian Kesehatan Indonesia (2012) dari 5 rumah sakit rujukan tersebut yang paling banyak menerima dan melayani pasien HIV/AIDS adalah RSUP. Adam Malik sebanyak 443 kasus dan RSU. Dr. Pringadi sebanyak 350 kasus. Sejak penunjukkan tersebut RSU. Dr. Pirngadi menyediakan pelayanan khusus bagi pasien yaitu Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) artinya konseling dan tes secara sukarela, Care support and treatment (CST) artinya dukungan dalam pelayanan, perawatan dan pengobatan, hingga konsultasi terkait infeksi opurtunistik.

Data dari RSU. dr. Pirngadi Medan diketahui jumlah kumulatif pasien yang dinyatakan positif HIV/AIDS mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di mana dalam 2 tahun terakhir sampai dengan bulan Juni 2012, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 323 orang. Jumlah kumulatif ODHA dengan terapi antiretroviral sampai dengan akhir bulan September 2012 sebanyak 171 orang antara lain 113 orang lakilaki dan 58 orang perempuan, 10 orang yang berhenti minum obat (6 orang laki-laki dan 4 orang perempuan) serta 66 orang yang meninggal (52 orang laki-laki dan 14 orang perempuan).

Selain itu jumlah kumulatif ODHA yang tidak hadir dan lolos follow up menjalani ARV dalam 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2010 sebanyak 13 orang, tahun 2011 sebanyak 7 orang dan Januari sampai September 2012 sebanyak 14 orang. Menurut penuturan petugas tersebut, dalam menjalankan terapi antiretroviral masih ada ODHA yang telat minum obat dan lupa mengambil obat ke rumah sakit sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di RSU. dr. Pirngadi Medan pada bulan Agustus-September 2012 terhadap 10 ODHA, di mana mereka telah mendapatkan terapi antiretroviral, 5 orang diantaranya menyatakan alasan menjalankan terapi antiretroviral ini karena adanya dukungan keluarga yang kuat (suami/istri, terutama ibu mereka) sehingga mereka semangat untuk sehat kembali.  orang menyatakan dengan alasan adanya niat/motivasi yang besar dari diri sendiri yang ingin sembuh dari penyakit tersebut. Sedangkan 1orang diantaranya menyatakan alasan bila ada keluhan saja maka mereka kontrol pada petugas.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan ODHA Dalam Menjalani Terapi Antiretroviral di RSU. dr. Pirngadi Medan Tahun 2012.









B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka timbul beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah itu Virus HIV/AIDS,dan penyebabnya ?
2.      Bagaimana tanda dan gejala Virus HIV/AIDS ?
3.      Bagaimana penanggulangan dan pengobatan Virus HIV/AIDS ?

C.   Tujuan Penulisan
1.   TujuanUmum
Untuk lebih mengetahui Virus HIV/AIDS
2.   Tujuan Khusus
a.   Untuk mengetahui apa itu Virus HIV/AIDS ?
b.   Untuk menambah wawasan tentang mengdiaknosa pada klien Virus HIV/AIDS ?
c.    Untuk mengetahui pengobatan dan penanggulangan Virus HIV/AIDS ?

D.   Manfaat Penulisan
Adapun manfaat tentang HIV/AIDS adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang HIV/AIDS, sehingga dengan demikian aku dan kita semua dapat berusaha untuk menghindari diri dari penyakit HIV/AIDS ini. Meskipun informasi yang aku berikan melalui makalah ini adalah sebagian kecil dan masih banyak kekurangan, tetapi setidaknya isi dari makalah ini dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui tentang penyakit HIV/AIDS.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Keluhan
Pada saat awal terinfeksi virus HIV, mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, berkeringat dingin ketika malam hari dan kesulitan dalam berpikir.

B.   Gejala 
Gejala HIV AIDS tidak selalu muncul ketika terinfeksi AIDS. Beberapa orang menderita sakit mirip flu dalam waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah terpapar virus. Mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, dan kelenjar getah bening membesar di leher. Gejala HIV AIDSbisa jadi salah satu atau lebih dari ini semua biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.
        Perkembangan penyakit sangat bervariasi setiap orang. Kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini, virus terus berkembang biak secara aktif menginfeksi dan membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan memungkinkan kita untuk melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. 
Virus HIV menghancurkan sel-sel yang berfungsi sebagai “pejuang” infeksi primer, yang disebut CD4 + atau sel T4. Setelah sistem kekebalan melemah, gejala HIV AIDS akan muncul.
       
Gejala AIDS adalah tahap yang paling maju dari infeksi HIV. Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 CD4 + sel per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi jarang terjadi pada orang sehat. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit, dan organisme lainnya.Infeksi oportunistik umum pada orang dengan AIDS. Hampir setiap sistem organ yang terkena.
Beberapa gejala AIDS secara umum mencakup yang berikut.
1.      Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
2.      Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
3.      Demam tinggi berkepanjangan
4.      Sakit kepala terus menerus
5.      Diare kronis
6.       Batuk kering dan sesak napas berkepanjangan
7.      Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh








C.   Etiologi
Penyebab AIDS adalah Human immunodeficiency virus (HIV) yang merupakan golongan virus leukemia, termasuk dalam Retrovirus, yaitu suatu virus yang mempunyai RNA yang mempunyai tropisma spesifik terhadap limfosit T-helper. Ada 2 tipe virus HIV yang sudah teridentifikasi yaitu tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2), virus ini sangat relatif terhadap serologi dan geografi suatu daerah tetapi mempunyai karakteristik epidemiologi yang sama. HIV-1 mempunyai sifat patologis yang tinggi dibandingkan HIV-2.

D.   Diagnosa
Cara mendiagnosa HIV dan AIDS yaitu:
1. Uji antibodi
Infeksi HIV biasanya didiagnosis dengan tes darah untuk mendeteksi antibodi yang diserang oleh virus. Uji ini bermaksud untuk mendeteksi antibody yang telah diserang oleh HIV, dimana dalam hal ini yang menjadi indikator adalah jumlah CD4 dalam tubuh, yaitu kurang dari 200/cu mm.
2. Tes untuk HIV
Setelah uji antibodi tadi positif, tes kedua dilakukan untuk mengkonfirmasi hasilnya.
a. Ada berbagai jenis tes skrining tersedia di Amerika Serikat. Enzim immunoassay (EIA) yang digunakan pada darah adalah tes penyaringan yang paling umum. EIA lain tes dapat mendeteksi antibodi dalam cairan tubuh selain darah seperti cairan oral, urin, dan cairan vagina.
b. Rapid tes, tes skrining alternatif yang menghasilkan hasil yang cepat dalam kira-kira 20 menit. Ada yang disetujui Food and drug administration (FDA) tes yang menggunakan darah atau cairan oral. Tes ini memiliki tingkat akurasi yang mirip dengan tes EIA tradisional.
Rumah-tes HIV tersedia di banyak toko obat lokal. Darah diperoleh dengan tusukan jari dan dihapuskan pada filter strip. Darah dikirimkan dalam amplop pelindung ke laboratorium untuk diuji. Semua tes skrining positif harus dikonfirmasi dengan tindak lanjut tes darah yang disebut Western Blot untuk membuat diagnosis positif.

E.   Pengobatan

Pengobatan menggunakan antiretroviral (ART) dan telah secara substansial mengurangi komplikasi terkait HIV dan kematian. Namun, tidak ada obat untuk HIV / AIDS. Terapi dimulai dan individual di bawah pengawasan dokter ahli dalam perawatan pasien terinfeksi HIV. Sebuah kombinasi dari setidaknya tiga obat dianjurkan untuk menekan virus dari replikasi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kelas-kelas yang berbeda obat termasuk:
1. Reverse transcriptase inhibitor: obat ini menghambat kemampuan virus untuk membuat salinan dari dirinya sendiri.
2. Protease inhibitor (PI): Obat-obat ini mengganggu replikasi virus pada langkah selanjutnya dalam siklus hidup, mencegah sel-sel dari memproduksi virus baru.
Kedua obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat anti-HIV. Menghentikan HIV integrase inhibitor gen dari menjadi dimasukkan ke dalam DNA sel manusia. Ini merupakan kelas baru obat-obatan, belum lama ini disetujui untuk membantu mengobati orang-orang yang sudah kebal terhadap obat lain. Raltegravir (Isentress) adalah obat pertama dalam kelas ini disetujui oleh FDA, pada tahun 2007. Menghentikan obat antiretroviral virus replikasi virus dan menunda perkembangan AIDS. Namun, mereka juga memiliki efek samping yang dapat parah. Mereka termasuk penurunan sel darah putih, radang pankreas, keracunan hati, ruam, masalah pencernaan, peningkatan kadar kolesterol, diabetes, lemak tubuh yang abnormal distribusi, dan menyakitkan kerusakan saraf.

Wanita hamil yang HIV-positif harus mencari perawatan segera karena terapi ART mengurangi risiko penularan virus ke janin. Ada obat-obatan tertentu, Namun, yang berbahaya bagi bayi. Oleh karena itu, melihat seorang dokter untuk mendiskusikan obat anti-HIV sangat penting. Orang dengan infeksi HIV harus di bawah perawatan seorang dokter yang berpengalaman dalam mengobati infeksi. Semua orang dengan HIV harus dinasihati tentang menghindari penyebaran penyakit. Individu yang terinfeksi juga dididik tentang proses penyakit, dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

F.    Prognosis

HIV yang sudah berada dalam tubuh seseorang akan berkembang dalam waktu 1-3 bulan setelah menyerang antibodi. Kemungikanan besar akan mengidap AIDS dengan jangka waktu 15 tahun bahkan lebih setelah terinfeksi HIV, jika sudah menjadi penderita AIDS akan mengalami infeksi oppurtunistik akibat sistem imun yang terus menurun dan berujung pada kematian.











G.   

1.        Antigen gp 120 (protein berlabuh)
2.        Membran
3.        Selubung protein
4.        Kapsid
5.        Enzim transcriptase terbalik
6.        Enzyme integras
7.        RNA virus
 
Struktur

RNA virus masuk ke dalam sel
 
 


Limsofit CD4+ terinfeksi
 

Molekul CD4
 
 

1.partikel HIV bebas inti (kapsid) mengandung dua undtai sam ribonukleat (RNA), masing-masing satu rangkaian gen virus.

2.Pengikatan dan penyuntikan antigen gp 120 terikat dengan molekul CD4, lalu dengan ko-reseptor di permukaan sel

3. Transkripsi sel virus melepas enzim yang disebut transcriptase terbalik ke dalam sel.

4. Masuknya DNA virus  ke inti sel, tempat enzim integrase dari virus menyatukan DNA itu dengan DNA sel.
 

Inti sel
 
 



Sitoplasma
 
           
 


                                                                               

Komponen-komponen virus terkumpul dalam sel
 

6. HIV baru tercipta komponen-komponen isi HIV berkimpul di dinding sel. Viru muda terbentuk dan menguncup kelur dari sel, membawa sebagian membrane sel lainnya,
 



 

Virus Muda
 








BAB III
PEMBAHASAN
A.   Sejarah
Dari waktu ke waktu, penyakit baru ditemukan. Dalam 20 atau lebih tahun terakhir kita telah melihat penyakit baru seperti Virus Hanta, Virus Ebola, Penyakit  Legiuner, Lyme, Sindrom Kronis dan Toxic Shock Syndrome. Di antara penyakit-penyakit baru, AIDS telah menjadi yang paling terkenal.

Pada tahun 1980 dan 1981, para dokter di Amerika Serikat menemukan bahwa pria gay muda dan IV-pengguna narkoba, yang secara misterius mendapatkan penyakit yang paling sering terlihat ketika sistem kekebalan tubuh rusak. Sebagai bulan berlangsung, semakin banyak orang dalam kelompok mulai meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak. Tren ini juga mulai terlihat di Eropa Barat. Sebagai angka mulai secara dramatis meningkatkan, menjadi jelas bahwa penyakit baru kepada kita. AIDS diidentifikasi sebagai penyakit baru pada tahun 1981. Human immunodeficiency virus (HIV) adalah co-ditemukan beberapa tahun kemudian oleh Luc Montagnier dan Robert Gallo.

AIDS disebabkan oleh HIV. HIV diyakini berasal di Afrika kadang antara akhir 1940-an dan awal 1950-an. Kasus yang dikenal paling awal adalah pada seorang pria dari Kongo Belgia (sekarang dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1959 (darahnya - yang disimpan sejak tahun 1959 - baru-baru ini diuji untuk HIV).

HIV diyakini telah berevolusi dari simian immunodeficiency virus (SIV) ditemukan pada monyet. Hipotesis bahwa HIV berevolusi dari SIV didasarkan pada banyak kesamaan antara kedua virus, terutama pada tingkat genetik. Kedua virus secara genetik sangat mirip dan ditularkan dengan cara yang sama. Namun HIV hanya menyebabkan AIDS pada manusia, dan SIV hanya menyebabkan AIDS pada monyet. Virus SIV, seperti HIV, ditemukan dalam darah. Dari apa yang kita bisa mengatakan, HIV memasuki manusia melalui darah monyet. Ini bisa mungkin terjadi baik oleh minum darah monyet, monyet makan mentah atau mungkin lain paparan langsung dari darah monyet ke manusia.

Setelah HIV masuk manusia, seiring waktu itu menyebar orang-ke-orang terutama melalui hubungan heteroseksual. Pada kenyataannya, bahkan hari ini, sebagian besar kasus HIV / AIDS dunia menular melalui kontak heteroseksual, bukan melalui kontak homoseksual atau dengan berbagi jarum.

Selama berabad-abad, ketika sebuah penyakit baru tersebar di satu komunitas, butuh berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menyebar ke seluruh dunia. Dengan menggunakan pesawat terbang pada abad ke-20, penyakit baru dapat menyebar ke seluruh dunia lebih cepat daripada sebelumnya. Seseorang
sekarang dapat terbang dari Amerika Serikat ke Afrika dalam waktu sekitar satu hari. Sebelum pesawat diciptakan, itu akan mengambil bulan atau tahun untuk membuat perjalanan yang sama. Sebagai orang terbang di seluruh dunia dalam hitungan jam, mereka dapat membawa penyakit baru dengan mereka.

Bahkan, beberapa kasus AIDS awal di Amerika Serikat terkait dengan seorang pramugari laki-laki yang terbang di seluruh dunia (termasuk Afrika). Orang ini memiliki ribuan mitra seksual. Saat ia terbang di seluruh dunia, ia menyebarkan HIV ketika ia melakukan hubungan seks dengan sejumlah mitra nya seksual. Pada waktu itu masih butuh bertahun-tahun untuk HIV menyebar dari Afrika ke Amerika Serikat, karena ada sangat sedikit orang bepergian maka antara Afrika dan Amerika Utara.

Sama sekali tidak ada bukti bahwa HIV adalah buatan manusia. Hal ini terutama berlaku bila Anda melihat tingkat teknologi kami kembali di tahun 1940-an dan 1950-an. Pada tahun-tahun, kami tidak memiliki alat-alat teknis itu akan dibawa ke "menciptakan" virus. Bahkan saat ini, kita tidak memiliki teknologi untuk menciptakan sebuah virus baru. Sampai batas tertentu, kita sekarang dapat mengubah virus, serta melihat mereka di bawah mikroskop, dan mempelajari genetik mereka make-up.

Namun, kemampuan ini tidak eksis di tahun 1940-an dan 1950-an. Bahkan, genetik make-up dari virus ini begitu kompleks, yang bahkan saat ini, kita tidak memiliki pemahaman total bagaimana virus bekerja pada tingkat genetik. Ada pembicaraan bahwa virus itu menyebar di beberapa tahun lalu vaksin polio, namun teori ini kemudian terbukti tidak benar.

Untuk pemahaman yang lebih baik dari sejarah tahun-tahun awal epidemi AIDS, membaca buku Dan Band Played On: Politik, People, dan Epidemi AIDS, yang ditulis oleh Shilts Randy.

Sebagai manusia mengganggu pada hutan hujan dan hutan dunia, itu tidak akan mengejutkan jika kita menjadi terkena penyakit baru lainnya masih. Penyakit adalah bagian dari alam. Namun, kita harus melakukan yang terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit baru, dan untuk mendidik masyarakat tentang pencegahan penyakit yang sudah sekitar kita.

B.   Pengertian
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sel darah putih manusia yang merupakan bagian terpenting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini hidup di dalam darah penderita HIV, virus ini juga tidak memandang usia, warna kulit, orientasi seksual, agama maupum faktor pembeda lainnya. Sekali saja HIV hidup dalam tubuh kita, itu artinya kita sudah terinfeksi virus ini, dan sejauh ini belum ada obat untuk memusnahkan virus HIV ini, namun masih banyak upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari virus HIV.

AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit syndrome akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. Atau suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang merusak sel-sel kekebalan tubuh manusia.

C.   Ciri-ciri 
1. Demam mendadak
     Orang yang pertama kali terkena virus HIV, Anda mungkin mengalami demam ringan. Demam akan disertai dengan batuk dan pilek. Demam ini reda dalam beberapa hari dan Anda mungkin tidak memiliki gejala lainnya selama bertahun-tahun.

2. Kelelahan
Ini adalah tanda pertama HIV yang cenderung diabaikan. Kelelahan dapat terjadi karena beberapa alasan. Tetapi jika Anda tidur dengan baik, memiliki cukup istirahat dan masih merasa lelah sepanjang waktu, itu bisa menjadi alasan untuk kalian perhatikan.

3. Deman terus-menerus
Demam yang Anda dapatkan ketika HIV menyebar sangat berbeda dari yang Anda miliki sebelumnya. Seperti demam ringan yang berlangsung selama berminggu-minggu.

4. Kelenjar getah bening bengkak
Infeksi HIV biasanya membuat cairan limfatik tinggi. Hal ini membuat pembengkakan kelenjar getah bening dan sakit otot. Sakit kepala Ketika seseorang positif HIV, Anda akan mendapatkan sakit kepala konstan yang membuat Anda merasa demam dan lemah.

5. Sakit tenggorokan
Dingin yang berhubungan dengan infeksi seperti sakit tenggorokan dan batuk mulai menyerang Anda sangat sering karena mekanisme pertahanan tubuh Anda sedang lemah.

6. Kulit jadi lebih sensitif
Kulit Anda mungkin menjadi terlalu sensitif terhadap infeksi, goresan dan bahkan untuk menyentuh. Sedikit goresan dapat membuat kulit merah bahkan berdarah.

7. Mual dan Diare
Anda kehilangan nafsu makan karena mual dan makanan tidak bisa dicerna dengan baik. Hal ini karena bakteri baik dalam perut Anda secara perlahan menghilang .

8. Perubahan kuku
Kuku tumbuh lebih tebal, melengkung atau berubah warna. Hal ini disebabkan oleh ragi dan infeksi jamur pada kuku Anda.

9. Berkeringat saat malam
Orang positif HIV akan berkeringat di malam hari. Mereka akan mengeluarkan keringat saat tengah malam dan tidak bisa tidur.

10. Infeksi genital atau herpes
Anda sudah tahu bahwa virus HIV hadir dalam cairan kelamin seperti lendir. Itulah mengapa hal itu dapat menyebabkan infeksi genital seperti herpes dan luka pada tahap selanjutnya.

12. Kaki dan tangan kesemutan
Pernahkah Anda merasakan kesemutan pada yang luar biasa pada tubuh Anda? Seperti ditusuk dengan pin dan jarum ujung jari tangan atau jari kaki, hal ini terjadi saat virus mulai mempengaruhi sistem saraf Anda.

D.   Cara Penularan
Virus HIV terdapat dalam darah, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua specimen yang berupa cairan tubuh yang berasal dari tubuh penderita HIV dapat dipastikan infeksius dan sangat potensial untuk menularkan virus ini pada orang lain (namun ada juga cairan lain yang tidak tercemar virus HIV ini, salah satunya adalah air liur), termasuk ketika seorang penderita HIV positif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, dan bukan tidak mungkin bila nanti pasangan seksualnya tersebut akan terinfeksi virus HIV juga, apalagi jika tidak menggunakan pengaman (kondom).

Baik penderita pria maupun wanita sangat riskan untuk menularkan virus HIV ini  pada pasangan seksualnya ketika berhubungan badan, yakni melalui cairan sperma bagi penderita pria, dan melalui darah menstruasi atau cairan lain pada vagina bagi penderita wanita. Selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat ditularkan melalui jarum suntik yang digunakan bersamaan oleh seseorang yang terinfeksi HIV dengan orang yang tidak terinfeksi HIV, dan kemungkinan besar orang yang tidak terinfeksi HIV ini akan terinfeksi HIV. Virus HIV juga dapat ditularkan oleh seorang ibu yang positif terinfeksi HIV kepada bayinya pada waktu hamil atau menyusui, karena air susu yang diberikan sang ibu positif terinfeksi HIV.

E.   Cara Penanggulangan
1.      Abstain atau penolakan
Ini adalah salah satu tips terbaik untuk mencegah AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. Tidak bercinta atau menolak untuk bercinta bisa mejadi trik terbaik menghindari kemungkinan terkena infeksi penyakit ini. Ini adalah cara terbaik untuk menghindari kontak dengan cairan vagina, air mani dan cairan pra-mani.

2. Menggunakan perlindungan
Untuk mencegah HIV AIDS, Anda harus selalu menggunakan pelindung atau kondom.

3. Setia dan Hindari Seks Bebas
Memiliki kontak fisik dengan hanya satu pasangan yang juga monogami pada waktu yang sama. Terlibat dalam seks dengan banyak pasangan, terutama tanpa menggunakan kondom dapat benar-benar berbahaya.

4. Berbagi jarum suntik
Suntikan jarum yang dipakai bergantian dan tidak steril dapat menyebabkan risiko. AIDS menyebar karena transfusi darah, jadi sangat berhati-hati sebelum memakai jarum.

5. Hindari ASI
Menurut US Department of Health and Human Services, ASI dapat mengandung virus HIV, sehingga hindari kontak dari ASI dengan selaput lendir di mulut.


6. Pelumas
Banyak bahan kimia dan minyak yang dapat merusak kondom. Jadi, selalu gunakan pelumas berbasis air.

Semoga artikel mengenai penyakit HIV yang mencakup gejala infeksi virus HIV, cara penularan dan cara pencegahan ini bisa bermanfaat buat anda sebagai antisipasi dan pengetahuan.


BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
AIDS disebabkan oleh HIV. HIV diyakini berasal di Afrika kadang antara akhir 1940-an dan awal 1950-an. Kasus yang dikenal paling awal adalah pada seorang pria dari Kongo Belgia (sekarang dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1959 (darahnya - yang disimpan sejak tahun 1959 - baru-baru ini diuji untuk HIV).

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sel darah putih manusia yang merupakan bagian terpenting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini hidup di dalam darah penderita HIV, virus ini juga tidak memandang usia, warna kulit, orientasi seksual, agama maupum faktor pembeda lainnya. Sekali saja HIV hidup dalam tubuh kita, itu artinya kita sudah terinfeksi virus ini, dan sejauh ini belum ada obat untuk memusnahkan virus HIV ini, namun masih banyak upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari virus HIV.
Virus HIV terdapat dalam darah, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua specimen yang berupa cairan tubuh yang berasal dari tubuh penderita HIV dapat dipastikan infeksius dan sangat potensial untuk menularkan virus ini pada orang lain (namun ada juga cairan lain yang tidak tercemar virus HIV ini, salah satunya adalah air liur), termasuk ketika seorang penderita HIV positif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, dan bukan tidak mungkin bila nanti pasangan seksualnya tersebut akan terinfeksi virus HIV juga, apalagi jika tidak menggunakan pengaman (kondom).

B.   Saran
Kita Sebagai Penerus bangsa hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha menghindari diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit HIV/AIDS. Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah, jangan bergonta ganti pasangan seksual. Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, pastikan jarum suntik yang digunakan itu baru dan steril. Apabila melakukan transfusi darah, periksakan terlebih dahulu apakah transfusi darah itu bebas dari virus HIV atau tidak. Bagi ibu hamil yang terinveksi virus HIV, sebaiknya melakukan terapi atau vaksinasi pada janinnya, agar nanti bayi yang dilahirkannya kemungkinan kecil terinveksi HIV, dan jangan member ASI pada bayi, karena dari ASI itu virus HIV akan mudah masuk ke dalam tubuh bayi.
Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat suntik, alat-alat tatto, anting tindik, dan sebagainya, karena alat-alat seperti itu tidak ada gunanya, dan hindari diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
Orang yang mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV, hendaknya menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus HIV tidak menular pada pasangan seksualnya. Dan ingat HIV/AIDS ada dimana saja dan kapan saja bisa menyerang kita.

DAFTAR PUSTAKA
Raven,P.H. and George B. Johnson.1996.Biology.Fourth Edition.New York: WBC/Mc Graw-Hill Companies,Inv
www.dk.com
www.erlangga.com
www.blogger.com
www.google.com

Semoga bermanfaat bagi kalian semua yang membacanya. mohon maaf bila ada kata yang kurang sopan atau salah kata:) . SEMOGA BERMANFAAT.,